Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas XI IPA 1 SMAN 1 Kamal

KESANTUNAN NEGATIF DALAM INTERAKSI AKADEMIK PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS XI IPA SMAN 1 KAMAL



SKRIPSI

Diajukan kepada STKIP PGRI Bangkalan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memeroleh Gelar Sarjana  Pendidikan pada Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia





ABD MUIS JAFAR
NPM. 0834411004
  





SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PGRI BANGKALAN
PROGAM STUDI PENDIDI KAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2012




 



 

PERSETUJUAN
Skripsi yang berjudul “Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal Tahun Pembelajaran 2011/2012” oleh Abd Muis Jafar, NPM 0834411004 dinyatakan telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diujikan.

Pembimbing I


Dr. Suhartono, M.Pd



………………………….
Surabaya,      Juli 2012


Pembimbing II


Ahmad Yani, S.Pd



……………………………
Bangkalan,        Juli 2012













PENGESAHAN

Skripsi  yang berjudul “Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal” oleh Abd Muis Jafar, NPM 0834411004 Telah Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Pada 9 Juli dan 10 Juli 2012.

Dewan Penguji
Nama



H. Sunardjo, S.H., M.Hum.
Jabatan


Ketua Dewan Penguji
Tanda Tangan



……………


Dr. Dianita Indrawati, M.Hum.

Penguji I

......................

Tri Rahmawati, S.Pd. 

Penguji II

.......................
                                                                                                           


Diketahui,
Ketua STKIP PGRI Bangkalan


Drs. H. Moh. Hafidz, M.Pd.
NIDN 0705073901







MOTTO DAN PERSEMBAHAN


Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah
selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
(QS. Al-Insyirah: 6-8)

Semakin banyak yang ingin kita ketahui
Semakin banyak pula yang belum kita ketahui

Skripsi ini saya persembahkan kepada orang-orang
yang sangat saya cintai, sayangi dan berarti dalam hidup ini
Ayah, Ibu , Mbak Mei, dan semua adek-adekku yang
selalu memberikan dukungan serta tak henti-hentinya memberikan do’a.
Bapak dan Ibu dosen yang telah memberi ilmu yang bermanfaat dan senantiasa
membimbing dengan kesabaran
hingga skripsi ini dapat terselesaikan.
Rekan-rekan, sahabat dan kekasih
yang selalu memberikan semangat,
dukungan dan selalu setia dalam suka dan duka.









KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal Tahun Pembelajaran 2011/2012”.
            Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan memeroleh gelar sarjana pendidikan pada Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Keberhasilan dalam penulisan ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu melalui kesempatan yang sangat berharga ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1)      Bapak Drs. H. Moh. Hafidz, M.Pd, selaku Ketua STKIP PGRI Bangkalan;
2)      Ibu Dra Sri Rukiyati Ningsih, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia;
3)      Bapak Dr. Suhartono, M.Pd selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik;
4)      Bapak Ahmad Yani, S.Pd selaku dosen pembimbing II;
5)      Bapak dan Ibu dosen STKIP PGRI Bangkalan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini;
6)      Ibu Hj. RA. Rosdiantini, S.Pd., M.Pd, Selaku Kepala SMA Negeri 1 Kamal;
7)      Ibu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan siswa-siswi di kelas XI IPA SMAN 1 Kamal;
8)      semua keluarga besar yang selalu mendoakan dan membantu Penulis untuk tetap berjuang dalam hidup dan meraih cita-cita;
9)      Kepada teman-temanku (Muchlis, Ridho, Fairil, Dinda, Rahmania, Vera, Anis, dan  Nanik Ernawati) terima kasih atas bantuan yang telah diberikan;
10)   teman-teman kelas A Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2008 di STKIP PGRI Bangkalan;
11)  dan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, saran, dan kritik yang bersifat membangun dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga bantuan dan bimbingan yang diberikan kepada penulis mendapatkan balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun diperlukan dalam penuisan ini. Akhirnya, semoga hasil skripsi ini bermanfaat bagi generasi seterusnya. Untuk kurang dan lebihnya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.


Bangkalan, 12 Juni 2012

Abd Muis Jafar
0834411004







ABSTRAK


Jafar, Abd Muis. 2012. “Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP PGRI Bangkalan, Pembimbing I: Dr. Suhartono, M.Pd., Pembimbing II: Ahmad Yani, S.Pd.
Kata kunci: pragmatik, kesantunan negatif

Penelitian kesantunan negatif dalam interaksi akademik pada pembelajaran Bahasa Indonesia antara guru dan siswa merupakan kajian yang memperlihatkan adanya jarak sosial antara penutur dan petutur. Oleh sebab itu, hubungan sosial antara penutur dan petutur akan tetap terjaga apabila masing-masing peserta tutur tidak saling mempermalukan. Dengan kata lain bersikap santun berarti tidak mengancam wajah, tidak menyatakan hal-hal yang dapat mengancaman muka negatif petutur, atau tidak mencoreng wajah seseorang dan wajah diri sendiri
Penelitian ini berdasarkan permasalahan: 1) Bagaimana bentuk kesantunan negatif dalam interaksi akademik pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI IPA SMAN 1 Kamal?; 2) Bagaimana bentuk pelanggaran kesantunan negatif dalam interaksi akademik pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas XI IPA SMAN  Kamal?; 3)Bagaimana strategi kesantunan negatif dalam interaksi akademik pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI IPA SMAN 1 Kamal?
Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan deskripsi tentang: 1) bentuk tuturan kesantunan negatif dalam interaksi akademik pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal; 2) bentuk tuturan yang melanggar kesantunan negatif dalam interaksi akademik pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal; 3) strategi kesantunan negatif dalam interaksi akademik pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipasi pasif, subjek penelitian ini adalah tuturan guru dan seluruh siswa dalam kelas, Lokasi penelitian di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal. Data yang diperoleh melalui teknik sadap, rekam, dan catat kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan prosedur berikut. Transkripsi data, Reduksi data, Penyajian hasil analisis, dan tahap Penyimpulan.
Simpulan dalam penelitian ini adalah bentuk kesantunan negatif yang digunakan penutur merupakan cara agar tidak menekan petutur dari keharusan melakukan sesuatu dengan sedikit mengurangi tuturan yang yang dapat melanggar kesantunan negatif. Bentuk pelanggaran kesantunan negatif terbesar terdapat pada ungkapan perintah dan permintaan. Strategi kesantunan negatif yang sering digunakan penutur adalah menggunakan strategi pilihan agar tidak menekan petutur dari keharusan melakukan sesuatu seperti strategi meminimalkan paksaan, tidak menyebut nama penutur dan petutur dan memberikan penghormatan.





LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama               : Abd Muis Jafar
NPM               : 0834411004
program studi : Bahasa dan Sastra Indonesia
alamat              : Jalan Tajungan Gili Anyar, Kamal—Bangkalan
dengan ini menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Kesantunan Negatif dalam Interksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kamal” adalah hasil karya sendiri dan bukan jiplakan hasil karya orang lain.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Jika di kemudian hari terbukti bahwa skripsi saya merupakan hasil jiplakan maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku.

Bangkalan. 20 Juli 2012
Yang menyatakan,


Abd Muis Jafar



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………...      i
HALAMAN PERSETUJUAN ………………………………………………...     ii
HALAMAN PENGESAHAN…………………..……………………………...     iii
HALAMAN PERSEMBAHAN..........................................................................     iv
KATA PENGANTAR………………………………………………………….      v
ABSTRAK………………………………………………………………………     vii
LEMBAR PERNYATAAN…………….……………………………………..     viii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………      ix
DAFTAR TABEL……………………………………………………………...      xi
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………..      xii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................       1       
1.1 Latar Belakang ………………………………………………......................       1
1.2    Rumusan Masalah………………………………………………………......        6
1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………………………       6
1.4    Manfaat Penelitian ………………………………………………………….       7
1.5    Definisi Operasional………………………………………………………...       7

BAB II KAJIAN PUSTAKA..............................................................................      9
2.1    Teori Pragmatik……………………………………………………..............       9
2.2    Peristiwa Tutur ……………………………………………………………..      11
2.3    Kesantunan………………………………………………………………….      12
2.3.1 Bentuk Kesantunan Negatif…………………………………………...     15
2.3.1   Bentuk pelanggaran kesantunan negatif...............................................      17
2.3.3 Strategi Kesantunan Negatif…………………………………………..     18
2.4    Penelitian Sebelumnya yang Relevan………………………………………       20

BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................    23
3.1    Pendekatan Penelitian……………………………………………………….     23
3.2    Subjek dan Lokasi Penelitian……………………………………………….      23
3.3    Objek dan Waktu Penelitian………………………………………………...      24
3.4    Metode dan Teknik Pengumpulan Data…………………………………….      24
3.4.1   Metode Pengumpulan Data…………………………………………...     24
3.4.2   Teknik Pengumpulan Data……………………………………………      24
3.5    Tekhnik Analisis Data………………………………………………………      26
3.6    Instrumen analisis Data…………………………………………………......      29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...................................    31
4.1 Hasil Penelitian………………………………………………………………      31
4.1.1 Bentuk Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia si Kelas XI IPA SMAN 1 Kamal…..                                                                       31
4.1.2 Bentuk Pelanggaran Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia si Kelas XI IPA SMAN 1 Kamal…………………………………………………………………      35
4.1.2.1 Ungkapan yang Menekan Petutur
            untuk Melakukan Sesuatu…………………………………….      36
4.1.2.2 Ungkapan Mengenai Tawaran dan Janji……………………...      40
4.1.2.3 Ungkapan Mengenai Pujian…………………………………..      41
4.1.3 Strategi Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia si Kelas XI IPA SMAN 1 Kamal…                                                                      44
4.1.3.1 Ungkapan Tidak Langsung…………………………………...      44
4.1.3.2 Bentuk Pertanyaan Pagar……………………………………..      45
4.1.3.3 Bersikap Pesimis……………………………………………...      47
4.1.3.4 Meminimalkan Paksaan………………………………………       49
4.1.3.5 Memberikan Penghormatan…………………………………..      51
4.1.3.6 Menggunakan Permohonan Maaf…………………………….      52
4.1.3.7 tidak Menyebutkan Penutur dan Petutur……………………...     54
4.1.3.8 Menyatakan Tindakan Mengancam Wajah
            sebagai Suatu Ketentuan Sosial yang Umum Berlaku………..      56
4.1.3.9 Nominalkan Pernyataan………………………………………      58
4.1.3.10 Menyatakan Berhutang Budi………………………………..      59
4.2 Pembahasan………………………………………………………………….      60
4.2.1 Bentuk Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia si Kelas XI IPA SMAN 1 Kamal…                                                                      60
4.2.2 Bentuk Pelanggaran Kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia si Kelas XI IPA SMAN 1 Kamal…................................................................................................      61
4.2.3 Strategi kesantunan Negatif dalam Interaksi Akademik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia si Kelas XI IPA SMAN 1 Kamal………...                                                                       63

BAB V SIMPULAN DAN SARAN....................................................................
5.1 Simpulan……………………………………………………………………..      66
5.2 Saran…………………………………………………………………………      67


DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………          68      
LAMPIRAN...............................................................................................
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Korpus Data……………………………………………………………..  25      
Tabel 2 Bentuk Kesantunan Negaif……………………………………………...     29
Tabel 3 Bentuk Pelanggaran Kesantunan Negatif……………………………….       29
Tabel 4 Strategi Kesantunan Negatif…………………………………………….     30





DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1 : Korpus Data
Lampiran 2: Data Siswa
Lampiran 3 : Gambar Lokasi
Lampiran 4 : Surat Ijin Observasi

Sabtu, 26 Februari 2011

kritik sastra


KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL
THE OLD MAN AND THE SEA
KARYA ERNEST HEMINGWAY
MATA KULIAH: KRITIK SASTRA
Dosen Pengampu : Andaru Ratnasari S.Pd., M.Pd
Oleh :
Abd Muis Jafar
0834411004
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI BANGKALAN
2011
A. Pendahuluan
Perkembangan kritik sastra Indonesia dalam dekade tahun 1980-an ditandai dengan munculnya beberapa pembicaraan mengenai sosiologi sastra atau pendekatan sosiologis terhadap karya sastra. Dalam konteks ini. kritik sastra sesungguhnya mencoba memanfaatkan disiplin ilmu lain (sosiologi) untuk memberi penjelasan lebih mendalam mengenai salah satu gambaran kemasyarakatan yang terdapat dalam karya sastra. Oleh karena itu, pembicaraan mengenai hubungan kritik sastra dengan sosiologi, muncul lantaran ada anggapan bahwa karya sastra merupakan cermin masyarakat. Karya sastra juga dianggap sebagai potret kehidupan masyarakat dan gambaran semangat zamannya. Dalam hal ini, karya sastra dianggap sebagai gambaran “struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas dan lain-lain.
Dikatakannya juga bahwa karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dan faktor-faktor sosial dan kultural Pernyataan itu mengisyaratkan perlunya menghubungkan faktor sosio-budaya dalam usaha memahami karya selengkapnya. Dan hubungan ini akan tampak bahwa dalam beberapa hal, ungkapan sastra sebagal cermin masyarakat mempunyai nilai kebenaran. Apalagi jika ternyata kita tidak memperoleh bahan tertulis tentang karya itu. Sastra menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang-orang, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Maka, memandang karya sastra sebagai penggambaran dunia dan kehidupan manusia, kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah "kebenaran" penggambaran, atau yang hendak digambarkan. Sebagaimana yang dikemukakan Damono, Swingewood (1972: 15) pun mengingatkan bahwa dalam melakukan analisis sosiologi terhadap karya sastra, kritikus harus berhati-hati dengan slogan “sastra adalah cermin masyarakat’’. Hal ini melupakan pengarang, kesadaran, dan tujuannya. Dalam melukiskan kenyataan, selain melalui refleksi, sebagai cermin, juga dengan cara refleksi sebagai jalan belok. Seniman tidak semata melukiskan keadaan sesungguhnya, tetapi mengubah sedemikian rupa kualitas kreativitasnya
Sosiologi karya sastra itu sendiri lebih memperoleh tempat dalam penelitian sastra karena sumber-sumber yang dijadikan acuan mencari keterkaitan antara permasalahan dalam karya, sastra dengan permasalahan dengan masyarakat lebih mudah diperoleh. Di samping Itu, permasalahan yang diangkat dalam karya sastra biasanya masih relevan dalam kehidupan masyarakat. Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. Sesungguhnya sosiologi dan sastra berbagi masalah yang sama. Seperti halnya sosiologi, sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat sebagai usaha manusia untuk menyesuakan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Dengan demikian, novel dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial yaitu hubungan manusia dengan keluarga, lingkungan, politik, negara, ekonomi, dan sebagainya yang juga menjadi urusan sosiologi. Dapat disimpulkan bahwa sosiologi dapat memberi penjelasan yang bermanfaat tentang sastra, dan bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa sosiologi, pemahaman kita tentang sastra belum lengkap.
Pendekatan sosiologi sastra dalam novel The Old Man And The Sea
Perkembangan sosiologi sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Sebagai salah satu pendekatan dalam kritik sastra, sosiologi sastra dapat mengacu pada cara memahami dan menilai sastra yang memprtimbangkan segi-segi kemasyarakatan (sosial). Pengkajian sastra dapat memahami dan menelaah karya sastra dari sosiologi pengarang, sosiologi karya, dan sosiologi pembaca. Dalam bukunya A Glossary of’ Literature Term. Abrams menulis bahwa dan sosiologi sastra ada tiga perhatian yang dapat dilakukan oleh kritikus atau peneliti yaitu:
1.Penulis dengan lingkungan budaya tempat ia tinggal.
2.Karya, dengan kondisi sosial yang direfleksikan di dalamnya.
3. Audien atau pembaca (1981: 178).
1.Penulis dengan lingkungan budaya tempat ia tinggal.
Melalui sosiologi pengarang Penulis dengan lingkungan budaya tempat ia tinggal kita akan membahas tentang novel Ernest Hemingway The Old Man and The Sea, Hemingway, yang dijuluki "Papa," adalah bagian dari komunitas ekspatriat pada 1920-an di Paris, seperti yang digambarkan dalam novelnya A Moveable Feast. Ia yang dikenal sebagai bagian dari "Generasi yang Hilang," sebuah nama yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Gertrude Stein, mengalami kehidupan sosial yang penuh dengan badai, menikah empat kali, dan konon menjalin banyak hubungan romantis semasa hidupnya. Hemingway memperoleh Hadiah Pulitzer pada 1953 untuk The Old Man and the Sea. Ia memperoleh Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1954, meskipun ia mengatakan bahwa ia "akan berbahagia–lebih berbahagia...bila hadiah itu diberikan kepada pengarang yang cantik itu Isak Dinesen,". Dalam novel ini di jelaskan bahwa Pengarang merupakan anggota yang hidup dan berhubungan dengan orang- orang yang berada disekitarnya, maka dalam proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu, karya sastra yang lahir ditengah-tengah masyarakat merupakan hasil pengungkapan jiwa pengarang tentang kehidupan, peristiwa,serta sebuah pengalaman hidup yang telah dihayatinya. Dengan demikian, sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari kekosongan sosial. Artinya karya sastra ditulis berdasarkan kehidupan sosial masyarakat tertentu dan menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang melatarbelakanginya.
Konteks sosial pengarang adalah yang menyangkut posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, termasuk di dalamnya faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi diri pengarang sebagai perseorangan di samping mempengaruhi isi karya sastranya. Sastra sebagai cermin masyarakat menelaah sampai sejauh mana sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat. Fungsi sosial sastra, dalam hal ini ditelaah sampai berapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial, dan sampai seberapa jauh pula sastra dapat berfungsi sebagai alat penghibur dan sekaligus sebagai pendidikan masyarakat bagi pembaca.
2.Karya, dengan kondisi sosial yang direfleksikan di dalamnya.
Penerapan sosiologi karya sastra dalam hubungannya dengan masalah sosial adalah pengkajian novel Ernest Hemingway The Old Man and The Sea dengan mengaitkannya dengan realitas yang terjadi dimasyarakat seperti yang diceritakan Dalam Orang Tua dan Laut, Ernest Hemingway menyajikan Santiago nelayan sebagai manusia ideal - independen dalam tindakan-Nya, bersemangat untuk mengikuti panggilannya, dan bersedia untuk mengambil kesempatan dalam hidup. Hemingway telah menceritakan seorang pahlawan yang melambangkan kehormatan, keberanian, daya tahan, dan iman Yaitu Santiago. Dia tidak mengeluh tentang nasib buruk nya, juga tidak menyalahkan tangan yang sementara mengkhianati dia, marlin yang tantangan kekuatannya, atau hiu yang mencuri tangkapannya. Dia mungkin sudah tua, tapi dia masih memiliki daya tahan Meskipun kelaparan dan rasa sakit dan 84 hari nasib buruk, Santiago tetap iman ia miliki dalam dirinya. Ia bermimpi lama pergi oleh - tangan-gulat dan singa emas di pantai Afrika. Dia mencoba untuk menjadi seperti Joe DiMaggio yang mengatasi nyeri (tulang spur) dan percaya bahwa pemain bisbol akan bangga padanya Sebagaimana Hemingway pernah menulis, "Keberanian adalah kasih karunia di bawah tekanan," dan ini cocok definisi's keberanian Santiago sempurna. Berbicara tentang hubungan manusia dalam masyarakat dalam suatu karya sastra berarti kita berbicara tentang unsur ekstrinsik dari karya sastra tersebut. Hubungan manusia dalam masyarakat pada karya sastra merupakan suatu unsur yang tidak berada di dalam karya sastra tersebut tetapi mempengaruhi bangun cerita dari karya sastra tersebut.
3. Audien atau pembaca (1981: 178).
Penerapan sosiologi pembaca The Old Man And The Sea sebagai karya sastra yang tergolong hanya dibaca dan ditanggapi masyarakat Walaupun motivasi para pembaca dalam membaca novel tersebut mungkin bermacam-macam, misalnya ada yang menganggapnya sebagai hiburan belaka. Ada yang tertarik karena ceritanya tentang kehidupan seorang Lelaki Tua yang berani dengan kekuatan dan iman. Hal ini juga didukung oleh sikapnya terhadap ikan besar ini menunjukkan tingkat kehormatan sejati karena ia bangga kekuatan dan daya tahan lawannya menyebutnya saudaranya. Dalam bukunya tersebut Hamingway telah menciptakan karakter yang berpengalaman yang dapat membantu kita dalam pertempuran kita sendiri. Santiago menunjukkan kepada kita bahwa kekalahan hanya terletak pada menolak pertempuran, tidak kalah melawan. pertempuran Santiago tidak dengan marlins, dengan ikan hiu, dengan kemiskinan, atau bahkan dengan usia tua, tetapi kita semua berjuang melawan musuh beberapa pada suatu saat dalam kehidupan kita. Ketika orang lain akan menyerah, Santiago dan Manolin memiliki iman dalam satu sama lain dan membuat rencana untuk ikan bersama-sama Ini pertanda baris terakhir perpanjangan pria tua itu dalam mimpi tentang singa-singa masa mudanya bahwa dia masih punya mimpi.
Sastra menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang-orang, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Maka, memandang karya sastra sebagai penggambaran dunia dan kehidupan manusia, kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” penggambaran, atau yang hendak digambarkan. Namun Wellek dan Warren mengingatkan, bahwa karya sastra memang mengekspresikan kehidupan, tetapi keliru kalau dianggap mengekspresikan selengkap-lengkapnya. Hal ini disebabkan fenomena kehidupan sosial yang terdapat dalam karya sastra tersebut kadang tidak disengaja dituliskan oleh pengarang, atau karena hakikat karya sastra itu sendiri yang tidak pernah langsung mengungkapkan fenomena sosial, tetapi secara tidak langsung, yang mungkin pengarangnya sendiri tidak tahu. Karya sastra dapat juga mencerminkan dan menyatakan segi-segi yang kadang-kadang kurang jelas dalam masyarakat. Sosiologi sastra dapat meneliti melalui tiga perspektif pertama perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisisnya sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua, perspektif biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang ketiga, perspektif yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi dalam sastra merupakan gabungan dari sistem pengetahuan yang berbeda. Sosiologi adalah sebuah bidang ilmu yang menjadikan masyarakat sebagai objek materi dan kenyataan sosial sebagai objek moral. Dalam perspektif sosiologi, kenyataan sosial dalam suatu komunitas masyarakat dipahami dalam tiga paradigma utama, yaitu fakta sosial, defenisi sosial, definisi sosial, dan paradigma perilaku. Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi dari pada apa yang terjadi dewasa ini (das sein) bukan apa yang seharusnya terjadi (das solen). Sebaliknya karya sastra bersifat evaluatif, subjektif dan imajinatif.